Saya begitu heran melihat apa yang terjadi saat ini pada kampus
yang notabennya berjulukan kampusJantong
Hatee Rakyat Aceh atau
kampus kesayangan rakyat Aceh. Kampus yang dulu menjadi kebanggaan rakyat Aceh
semakin lama semakin menjadi penyiksa tersendiri bagi jantung dan hatinya
rakyat Aceh. Untuk masuk dan keluar dengan title sarjana saja putra putri Aceh
harus mengelus dada serta benar-benar bersabar. Bahkan dari beberapa kasus yang
ada, mahasiswa sampai menjadi gila dan malah ada yang memilih untuk mengakhiri
hidupnya karena tugas skripsi.
Masuk Susah Keluar Susah
Bisa kuliah di Universitas Syiah Kuala merupakan sebuah impian
dan kebanggaan bagi sebagian masyarakat Aceh. Tetapi untuk bisa masuk ke kampus
ini, kita harus berusaha dengan mengikuti tes SNMPTN, SMBPTN, dan UMB hanya
untuk mendapatkan satu kursi bersaing dengan beribu orang agar bisa belajar di
kampus kesayangan ini. Setelah lewat, mereka harus membayar uang pendaftaran
ulang dengan biaya yang tidak cukup murah terutama yang lewat jalur UMB (Ujian
Masuk Bersama) minimal harus membayar tiga juta, sungguh sangat jauh berbeda
bila kita melihat pendapatan ekonomi orang tua mahasiswa yang masih di bawah
rata-rata dan mengingat pekerjaannya dominan seorang petani.
Saat kalender tanggal masa kuliah sudah dimulai, masih banyak
dosen yang belum memulai perkuliahan bahkan setelah beberapa bulan berjalan
kuliah. Ketidakhadiran dosen mengajar perkuliahan tanpa informasi dan kejelasan
yang pasti. Sehingga banyak mahasiswa yang mengeluh karena seharus rugi waktu,
mereka juga rugi biaya untuk transportasi dari tempat kost ke kampus, mengingat
tidak semua mahasiswa tinggal di sekitaran daerah Darussalam. Ini sungguh
merugikan para orang tua yang telah membayar biaya SPP yang sangat mahal serta
anaknya tidak mendapatkan ilmu sepenuh dan semestinya sesuai yang diharapkan.
Menjelang akhir masa kuliah, mahasiswa juga dibebankan dengan
yang namanya skripsi. Selain harus bertarung melawan beratnya membuat tugas
skripsi, mereka juga harus bersabar menghadapi dosen yang selalu
mengulur-ngulur waktu untuk konsul. Bilapun bisa bertemu dosen yang
bersangkutan, kebanyakan dari mereka harus merasakan kekecewa karena akan
banyak coretan pada skripsi yang telah mereka buat, syukur-syukur diberikan
arahan tentang skripsi yang salah oleh dosen yang bersangkutan. Karena
penguluran waktu untuk konsul, mahasiswa harus membayar SPP penuh hanya untuk
konsul dan memperbaiki skripsi.
Kasus Almarhum Fadliansyah mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala bulan Agustus 2014 lalu, yang meninggal gantung diri
karena tidak tahan terhadap tekanan keluarga dan tugas skripsinya yang tidak
kunjung usai. Ini adalah gambaran nyata yang terjadi di kampus yang katanya Jantong
Hatee Rakyat Aceh.
Pengelolaan UKTB, SPP, dan Beasiswa
Setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 55 Tahun 2013 mengenai Biaya Kuliah Tunggal
(BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT), melalui surat edaran dari Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) nomor 272/E1.1/KU/2013 mengenai ketetapan
pembayaran dibagi atas 5 golongan sesuai dengan pekerjaan orang tua mahasiswa.
Dalam penggolongan tersebut, golongan pertama atau tidak mampu berkisar
Rp.0-Rp.500.000., golongan kedua Rp.500.000-Rp.1.000.000., golongan ketiga
Rp.1.000.000-Rp.2.000.000., golongan keempat Rp.2.000.000-Rp.3.000.000., dan golongan
kelima Rp.3.000.000-Rp.4.000.000., dan diikuti seterusnya berdasarkan
pendapatan orang tua mahasiswa.
Di Unsyiah sendiri, sistem Uang Kuliah Tunggal Berkeadilan
(UKTB) mulai diterapkan pada awal tahun kuliah 2013. Sistem yang
digunakan adalah subsidi silang, di mana yang kaya menutupi yang kurang mampu
dan sistem ini memiliki tujuan yang sangat bagus. Tetapi sayangnya UKTB yang
diterapkan di Unsyiah masih banyak mengalami kesalahan, terutama saat
verifikasi data. Semua tidak sesuai yang terjadi di lapangan. Kurangnya tim
survey untuk memantau langsung menjadi faktor utama karena masih banyak
mahasiswa yang tidak mengisi data pendapatan orang tua sesuai dengan aslinya.
Bila berbicara tentang UKTB, lalu apa dampaknya bagi SPP
mahasiswa lama? Sejak diterapkan UKTB di Unsyiah, biaya SPP semester pendek
yang sebelumnya Rp.75 ribu per sks, kini naik menjadi 100 ribu persks. Kenaikan
ini awalnya tidak ada kejelasan yang pasti dari pihak rektorat. Tetapi setelah
dilakukan demo oleh beberapa mahasiswa, keesokan harinya pihak rektorat baru
memberikan kejelasan dengan alasan untuk membayar dosen yang mau bekerja di
saat libur. Padahal seperti kita ketahui selama dua tahun biaya SPP semester
pendek tidak pernah naik. Selain itu, biaya SPP semester juga mengalami kenaikan
sebesar Rp.80 ribu, tanpa penjelasan yang pasti sampai sekarang untuk apa dan
kemana alokasi uang tersebut.
Mengenai tentang dana beasiswa, kebanyakan dari mahasiswa
yang menerima beasiswa tersebut semua bisa dikatakan setingkat mampu. Menurut
pantauan saya, hampir seluruhnya memiliki sepeda motor, hp canggih, bahkan ada
juga yang memiliki mobil. Lagi-lagi tim survey dan verifikasi mengalami
kebocoran dalam menangani hal ini. Selain itu, mengenai penerimaan beasiswa PPA
dan BBM banyak terjadi nepotisme dalam penyeleksian sehingga penerima hanya
orang tertentu saja yang mendapatkannya. Ini sungguh disayangkan bila beasiswa
tersebut tidak tepat sasaran baik itu penerima beasiswa Bidik Misi, PPA
(Peningkatan Prestasi Akademik), BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa), dan beasiswa
lainnya.
Untuk beasiswa Bidik Misi, berdasarkan info dari teman yang
berasal dari universitas lain dan berdasarkan media yang saya baca, dana per
semester yang diterima mencapai Rp.6 Juta. Besarnya dana itu sungguh sangat
menggiurkan. Tetapi sayangnya, dilapangan yang terjadi mengapa di Unsyiah hanya
mendapatkan Rp.3,9 juta? Yah, mungkin sudah
dipotong dana kantong sana-sini. Selain itu, sekarang mahasiswa penerima
beasiswa bidik misi harus dibebankan membuat sebuah proposal kreativitas agar
dana bidik misi bisa keluar.
Renovasi di Atas Penderitaan Mahasiswa
Bila kita berjalan di Kopelma terutama jalan protokolan kampus
Unsyiah, mata kita akan dimanjakan dengan pembongkaran trotoar, pengerjaan
penggalian kabel PT. Anggara Tri Multi, dan pelebaran jalan. Jalan serta
trotoar dan lintasan lari di lapangan taman Unsyiah yang masih layak dan bagus
malah dibongkar. Secara tidak langsung pengerjaan itu sudah menggangu
kenyamanan dalam menggunakan fasilitas kampus.
Melihat renovasi yang dilakukan oleh pihak rektorat hanya untuk
mempercantik wajah Unsyiah dari luar, sungguh menimbulkan pertannyaan dalam
hati saya. Buat apa mempercantik luar bila di dalam masih banyak yang perlu
diperbaiki? Tidak tahu apa kegunaannya, atau ingin menghamburkan anggaran
diakhir tahun? Kenapa saya katakan demikian? karena pengerjaan itu dilaksanakan
di saat mahasiswa sedang mengalami kesulitan akan keuangan untuk membayar SPP,
terutama bagi mahasiswa angkatan 2013 dan 2014, yang dibebankan dengan
pembayaran UKTB dengan biaya selangit.
Selain itu, padahal masih banyak mahasiswa-mahasiswa Unsyiah
yang bekerja disela-sela waktu kosong kuliah, berdagang, bahkan ada yang
mengamen diluar sana hanya untuk menutupi biaya kuliah. Mereka ada yang tidak
terjamah dengan yang namanya beasiswa. Dan masih banyak kampus-kampus
dari Fakultas yang ada di Unsyiah yang seharusnya mendapatkan perhatian serius,
seperti Fakultas Kelautan dan Perikanan yang masih menggunakan tempat belajar
di puskesmas lama, Kampus FKIP Penjaskesrek, dan Kampus FKIP PGSD yang berada
di Lampeuneurut.
Saran saya sebagai mahasiswa Unsyiah, saya sangat berharap bila
para dosen agar sangat memikirkan kewajiban dari hak yang telah diterima.
Karena tidak semua orang tua mahasiswa mudah mendapatkan uang untuk membiayai
kuliah anaknya. Dan mengenai skripsi, harap saya dosen sedikit berbaik hati
dalam menguji mahasiswa tingkat akhir, janganlah terlalu dibebankan dan buatlah
semampu mahasiswa. Berilah solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapi dan
jangan memberikan api yang bisa menyiksa diri. Kejadian Almarhum Fadliansyah
merupakan pukulan dan menjadi intropeksi tersendiri bagi dosen yang ada di
Unsyiah dan berbenah dari kasus yang terjadi pada almarhum.
Buat tim verivikasi UKTB dan beasiswa, alangkah baiknya mengajak
kerjasama pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan tempat tinggal mahasiswa,
seperti Pak Geucik dan kepala lorong agar lebih mudah menyesuaikan data yang
ada. Untuk pihak rektorat apabila ada kebijakan mengenai kenaikan SPP, berilah
audiensi dan laporan yang pasti kemana uang itu dipergunakan. Sebab sebagai
mahasiswa, kami yang memiliki kewajiban membayar SPP juga harus tahu kemana dan
untuk apa uang itu.
Mengenai perenovasian mohon pihak rektorat memikirkannya kembali
ditahun yang akan datang. Alangkah baiknya apabila anggaran yang lebih setiap
tahun tersebut dipergunakan untuk membeli kelengkapan fasilitas yang diperlukan
oleh setiap fakultas agar mahasiswa bisa lebih giat dan semangat dalam belajar
dan mengembangkan ilmu yang telah mereka dapatkan.
Kampus yang dibangun oleh darah, keringat dan kerjasama orang
Aceh kini lebih menjadi air mata bagi putra-putri Aceh sendiri. Dengarlah wahai
pihak rektorat, jangan biarkan air mata itu mengalir, sebab air mata akan
mengeluarkan darah dan darah itu sangat berarti. Hapuskan air mata kami sebagai
mahasiswa Unsyiah yang selalu menangis melihat kejadian ini. Karena sesuai
dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1, ”setiap warga Negara berhak mendapatkan
pendidikan”. Jadikanlah kampus Unsyiah ini menjadi lumbung yang menghasilkan
para intelektual muda yang berguna untuk Aceh karena kampus ini didirikan
dengan penuh perjuangan dan memiliki arti besar dalam sejarah Aceh.
Penulis adalah Mhd. Saifullah, warga Himpunan Mahasiswa
Sejarah FKIP Unsyiah dan Anggota Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FKIP
Editor: Hilda Rahmazani
sumber : WWW.DETaK-UNSYIAH.COM

0 komentar: